Kamu gak sendirian!

id Bahasa Indonesia

Puber, Wajar Enggak Sih Dibahas?

Puber, Wajar Enggak Sih Dibahas?

Menstruasi dan mimpi basah menjadi pintu gerbang yang dialami kita menuju masa remaja. Nah, sebagai remaja yang melek HKSR (Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi), kita harus paham nih kesehatan seksual dan reproduksi yang kita alami. Agar tidak tersesat di kemudian hari.

Pastinya Sobat Remaja sudah tahu dong apa itu Pubertas?

Nah, itu benar. 

Pubertas itu merupakan masa transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa. Masa peralihan itu namanya masa remaja. Ini masa yang sedang kita alami sekarang nih, masa yang penuh dengan nano-nano. Ditandai dengan munculnya tanda-tanda seksual sekunder. Sementara itu, kemampuan reproduksi ditandai dengan perubahan hormonal, perubahan fisik, maupun perubahan psikologis dan sosial. 

Masa pubertas tersebut melewati tiga tahapan yaitu pra pubertas, pubertas, dan pasca pubertas. Pubertas dimulai ketika dua tahun sebelum pubertas, ditandai dengan perubahan fisik dan juga kematangan seksual. Pada masa pubertas mulai keluarnya darah menstruasi pertama kali pada remaja perempuan, dan mimpi basah pada remaja laki-laki. Sedangkan pasca pubertas adalah periode satu sampai satu tahun setelah pubertas. Ditandai dengan pertumbuhan tulang telah lengkap dan fungsi reproduksinya telah terbentuk dengan baik.

Sobat Remaja tidak perlu khawatir ketika melalui fase-fase ini. 

Kamu perlu mengantisipasi saat melalui fase ini dengan berkonsultasi ke orang yang lebih dewasa (seperti orang tua, guru BK, konselor, dan lainnya) jika merasa bingung dengan kondisi kamu sekarang. Rasa bangga, malu, canggung, takut dalam diri, bahkan sampai bingung akan muncul. Ada pula yang mengalami rasa tersebut dengan campur aduk. Akhirnya jadi skip ketika diajak ngomong sama temen, karena mikirin kenapa banyak perubahan ini bisa terjadi, bener enggak? Lidah terasa kaku ketika mau cerita ke orang lain. Semuanya hal yang kamu rasain ini wajar kok, Sob.

 

Ngomongin Pubertas

Nah pertanyaannya, jadi pubertas ini boleh diomongin gak sih?

 

Sangat boleh dong. Kita bisa membicarakan kesehatan seksual dan reproduksi kapan dan dimanapun. Kan ini menyangkut hidup remaja Indonesia, nih. Jadi Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi itu adalah hak dasar kita atas tubuh yang mutlak harus dilindungi oleh negara. Kok gitu? Iya, remaja kan warga negara. Nah, negara wajib memberikan ruang yang aman dan nyaman bagi remaja ketika menjalani masa pubertasnya

 

Tapi kenyataannya kita masih harus tepok jidat, karena ruang aman dan nyaman tersebut belum kesampaian. Rasa campur aduk kayak naik roller coaster itu sayangnya masih harus dirasakan oleh remaja sendirian. Bisa kita bayangin deh, gimana rasanya naik roller coaster sendirian. Pada akhirnya, remaja memberanikan diri menceritakan hal tersebut ke orang terdekatnya.

Survei pada Pelatihan Media untuk Advokasi Remaja di Semarang tahun 2018 menunjukkan bahwa remaja perempuan lebih nyaman cerita ke Ibunya, asisten rumah tangga, nenek, dan teman dekat. Sama seperti halnya temuan GEAS 2018-2019, terdapat 41,6% murid mengatakan bahwa mereka nyaman berbicara dengan ibu mereka dan 38% dengan teman mereka.

Ada remaja perempuan yang cenderung lebih nyaman cerita ke neneknya. “Saya cerita ke nenek, panik awalnya karena darahnya agak banyak. Tapi nenek saya menenangkan. Tidak apa-apa, itu namanya kamu lagi menstruasi. Tenang saja, pakai pembalut.”

Remaja yang lainnya cenderung lebih nyaman cerita ke ibunya. “Saya cerita ke ibu saya kalau saya menstruasi. Ibu saya hanya menjawab, ‘oke‘. ”

Selain itu, ada juga remaja yang cerita ke asisten rumah tangga. “Mbak (asisten rumah tangga) memberi tahu kalau saya sedang haid, enggak usah takut.”

“Begitu haid, saya langsung kabari teman dekat saya. Rasanya senang, akhirnya haid. Tapi setelah itu takut, kalau pas “bocor” di sekolah. Pasti diledekin sama temen,” tutur salah satu remaja.

Dari survei ini didapatkan fakta bahwa mereka sudah mendapatkan informasi pubertas dari pelajaran di sekolah, teman satu kelas, guru, dan ibu. Meski begitu, informasinya masih belum cukup untuk mempersiapkan remaja ketika mengalami langsung. Materi di sekolah masih terbatas diberikan di dalam ruang kelas saja. Ketika di luar kelas, remaja kesulitan mendapatkan informasi pubertas. Diskusi-diskusinya juga masih terbatas. Bahkan, masih banyak informasi yang salah terkait menstruasi.

 

Bagaimana dengan pubertas pada remaja laki-laki?

Sementara itu remaja laki-laki lebih cenderung tidak menceritakan mimpi basahnya kepada siapapun. Jika bercerita, mereka memilih cerita ke teman-teman sepermainannya. Keluarga enggak jadi pilihan sebagai tempat cerita. Bagi remaja laki-laki, mimpi basah adalah hal yang biasa aja.

“Waktu saya pas mimpi basah, saya langsung cuci celana saya sendiri. Takut ketahuan keluarga, malu ah,” ujar salah satu remaja laki-laki dalam survei tersebut.

Rasa malu juga dialami oleh remaja laki-laki lainnya. “Kalau saya, taruh celana di paling bawah cucian. Enggak enak kalau ketahuan. Tapi saya bangga sudah mimpi basah, jadi bisa cerita ke teman-teman,” katanya.

Meskipun antara remaja laki-laki dan perempuan sama-sama ada perasaan malu dan bangga ketika sudah menstruasi dan mimpi basah. Namun, perempuan dihinggapi perasaan takut lebih besar dibandingkan laki-laki. Hal ini dikarenakan remaja perempuan takut mengalami kebocoran atau ‘tembus’ saat belajar di sekolah. Hal ini menjadi hal yang memalukan bagi mereka, apalagi sampai menjadi bahan ledek-ledekan temannya. Sobat Remaja pernah merasakan hal yang sama?

Remaja laki-laki menganggap pubertas adalah hal yang biasa saja. Padahal dalam konteks kesehatan seksual dan reproduksi, pada fase ini laki-laki mulai bisa membuahi. Maka sebenarnya perlu bekal yang cukup untuk terhindar dari perilaku seksual berisiko.

Nah, hal ini menarik nih Sobat Remaja, kita bisa menyambungkannya dengan peran ayah kita dalam pubertas anak-anaknya. Dalam survei ini tidak satupun responden yang menjawab ayah sebagai teman cerita ketika mengalami menstruasi atau mimpi basah. Hmmm… kenapa ya kira-kira?

Menarik juga jika kita mengaitkan dengan peran gender dalam keluarga. Yuk kita tengok dalam keluarga kita aja. Kecenderungannya, kita melihat ayah kita sebagai sosok dingin yang tugasnya hanya menafkahi keluarga. Urusan anak jadi urusan ibu doang. Maka anak jarang berkomunikasi mendalam dengan ayahnya. Tapi kalo udah anaknya terjerat narkotika, mengalami Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD), terinfeksi HIV, ayah udah siap- siap ngegas tingkat tinggi. Ayah merasa kalau keluarganya ternodai. Tapi di sisi lain, dalam berbagai kasus ayah kerap kali juga menjadi pelaku kekerasan seksual terhadap anak dan istrinya. Duh! 

Terus gimana nih? 

Kita harus sadar nih kalau dunia akan jadi indah kalo kita “saling”. 

“Saling”? apa maksudnya?

Maksudnya, semuanya itu bisa dilakukan dengan berbagi peran dan saling melengkapi. Konstruksi masyarakat tentang peran gender juga harus kita imbangi dengan banyak kepo tentang info kesehatan seksual dan reproduksi yang valid. Biar, kedepannya urusan kesehatan seksual dan reproduksi bisa dibicarakan dengan terbuka dari lingkungan keluarga.

 

 

Jadi, yuk ah kita mulai bicara pubertas ke lingkungan kita. Ajakin semua keluarga kita buat ngomongin perubahan selama pubertas karena hal ini tidak tabu kok. Yok bisa yok!

 

 

Penulis: Ryan A. Syakur

Glosarium

Pubertas: masa ketika seorang anak mengalami perubahan fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual

HIV (Human Immunodeficiency Virus): virus yang merusak sistem kekebalan tubuh, dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4. Sel CD4 adalah sel darah putih atau limfosit, bagian yang penting dari sistem kekebalan tubuh kita.

 

Referensi

Styne DM. 2000. The physiology of puberty. In: Brook CG, Hindmarsh PC, editors. Clinical Pediatric Endocrinology. Fourth ed. London: Blackwell Science.

Wong, D.L, et al. 2009. Buku ajar keperawatan pediatrik. Vol.1. Jakarta: EGC.

 

 

 

 

Tags

Bagikan Artikel Ini
Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lain