Kamu gak sendirian!

id Bahasa Indonesia

Nikah Muda, Emang Gimana?

Nikah Muda, Emang Gimana?

Menikah atau tidak menikah adalah pilihan yang harus dihormati, bukan dicemooh. Hal pentingnya, apapun pilihannya, kita bahagia menjalaninya.

Sobat remaja sudah menonton Drama Korea (Drakor) The World of the Married (2020)? Ya, Drakor yang viral tersebut mengangkat konflik rumah tangga tentang relasi, perselingkuhan dan keterpisahan. Tiga topik yang tidak asing lagi jadi bahan gosip-gosip tetangga kita. Bahkan menjalar sampai ke Whatsapp Group dan media sosial. Sebelumnya topik macam begini sudah sering jadi bahan baku sinetron, yang sering juga (secara tidak sadar) kita tontonin kalau senggang. Eh!

Nah, The World of the Married mengisahkan konflik dokter Ji Sun-Woo – dimainkan oleh Kim Hee-ae dengan suaminya sutradara Lee Tae-oh yang diperankan Park Hae-joon. Pernikahan mereka bubar jalan karena suaminya selingkuh dengan Yeo Da-Kyung (diperankan Han So-hee) perempuan muda yang berasal dari keluarga kaya dan berpengaruh.

Drakor ini menceritakan tentang relasi antara tiga tokoh tersebut, menggambarkan hal-hal yang terjadi setelah perceraian, menjadi orang tua tunggal, problematika menjadi anak dari orang tua yang bercerai, dan intrik-intrik yang belum usai Antara ketiga tokoh tersebut.

Pernyataan Ji Sun Woo dalam Drakor itu menyiratkan makna mendalam nih Sobat Remaja, bahwa pernikahan itu rumit, Ferguso! Pernikahan itu ibarat lautan luas. Kita tidak tahu kedalamannya, apa saja yang ada di dalamnya dan bagaimana cara mengarunginya. Maka, perlu perencanaan dan banyak kesiapan mengarunginya. Pun, kalau tidak tertarik mengarunginya tidak masalah juga bukan?

Nah, bagi sobat remaja yang sering ber-sosmed ria, tentunya kalian gak asing lagi nih pernah sama pesan-pesan yang kerap ramai diperbincangakan, seperti “Nikah muda solusi hidup bahagia no zina”, “Pacaran No menikah Yes”, “Menikahlah selagi muda” atau pernah gak dengar berita “Relationship goals! Pasangan muda idaman para remaja menikah saat 16 tahun”.

Eits, emang kamu yakin menikah muda itu indah?

Sobat Remaja sudah tahu kan ya, kalau perkawinan anak itu masuk dalam kategori usia 18 tahun ke bawah.

Nah, usia berapa sih yang masuk kategori perkawinan muda? Menurut kategorisasi Badan Pusat Statistik perkawinan muda masuk pada rentang 19-24 tahun. Tapi tidak menutup kemungkinan usia 18 tahun ke bawah (usia anak) turut pula terpapar kampanye nikah muda narasi-narasi yang digaungkan masih tetap sama dari zaman ke zaman yaitu menjauhkan dari zina. Ini juga yang menyebabkan para orang tua berpotensi memaksa menikahkan anaknya ketika mengalami Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD) sebelum menikah. Belum lagi, ada kecenderungan bahwa anak-anak muda merasa bangga jika telah menikah muda.

Beberapa media, salah satunya Tempo.co beberapa waktu lalu memberitakan tentang akun di media sosial yang menyebarkan konten perkawinan anak. Sobat Remaja pernah kepo-kepo juga akun Ukhti Mega Official? Ya, Ukhti Mega Official mengungkapkan pernikahannya di usia 17 tahun dan hamil pada usia yang sama. Masih ada pula selebgram Sabrina (16) dengan pasangannya Adhiguna Sosiawan (25) yang mengunggah cerita nikah mudanya. Saat itu Sabrina masih duduk di bangku SMA. Dua akun tersebut dianggap telah menggaungkan (kembali) perkawinan anak (Tempo.co, 2020).

Wah kok bisa gitu? Apakah Negara kita enggak punya aturan terkait batas usia perkawinan ya? Yuk kepoin yuk!

Ternyata Negara kita sudah punya aturan terkait hal tersebut nih, Sobat Remaja. UU No 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 7 (1) dengan jelas mengatakan bahwa “Perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun.” Artinya, Negara mengizinkan warga negaranya untuk menjalani kehidupan perkawinan jika sudah melampaui batas usia anak (18 tahun). Meskipun, dalam melangkah ke jenjang perkawinan ada faktor lain pula yang perlu dipertimbangkan yakni kesehatan reproduksi, kematangan psikis, mental dan sosial. 

Emang ada kaitannya antara perkawinan dengan kesehatan seksual dan reproduksi?

Jelas ada dong. Negara melalui Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi telah menjamin pemenuhan hak kesehatan seksual dan reproduksi bagi setiap orang. Selain itu juga menjamin kesehatan ibu dalam usia reproduksi agar melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas, juga mengurangi angka kematian ibu. Di samping masalah kesehatan reproduksi, pernikahan usia dini juga rentan dengan perceraian, seperti dikatakan oleh Direktorat Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Tirto.id, 2020).

Perceraian

Ternyata kehidupan pernikahan ternyata tidak semanis apa yang ada di pikiran kita nih Sobat Remaja. Banyak hal yang membuat pada akhirnya pernikahan harus kandas di tengah jalan alias bercerai. Di Indonesia angka perceraian terus meningkat dalam tiga sampai empat tahun terakhir. Data BPS menunjukkan bahwa angka perceraian sebanyak 353.843 kasus di tahun 2016.

Sementara itu, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr. Hasto Wardoyo, seperti dikutip dari Sonora.id kian menguatkan bahwa salah satu faktor perceraian adalah pernikahan dini. Peningkatan angka perceraian yang terjadi setiap tahunnya, meningkat pula di masa pandemi ini. Maka BKKBN sudah sering kali mengimbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan perkawinan pada usia muda. Tapi sampai sekarang imbauan penting tersebut masih dicuekin kayak mantan yang ngajak balikan. Padahal BKKBN mengamati pasangan yang mengalami pernikahan dini tidak memiliki pemahaman yang kuat antar pasangan, dan juga tidak mendapatkan akses pengetahuan yang memadai tentang perencanaan keluarga serta kesehatan seksual dan reproduksi sehingga berujung pada perceraian.

Sobat Remaja, kematangan usia sangat berpengaruh pada kesiapan seseorang memasuki kehidupan pernikahan. Nah masalahnya pernikahan di usia dini dan muda sangat rentan pada kondisi mental dan emosi yang belum stabil. Kondisi ini menyulitkan individu untuk beradaptasi dalam kehidupan pernikahan. Kita tahu bersama bahwa pernikahan itu harus memadukan “dua kepala” yakni kita dan pasangan. Belum selesai di situ, perlu diingat pula pernikahan juga berarti menyatukan kedua keluarga. Kompleksitas ini jadi satu alasan mengapa pernikahan seharusnya dijalani oleh individu dewasa dan matang.

Sayangnya, masyarakat kita masih memandang pernikahan sebagai jalan keluar dari persoalan hidup. Dari sisi orang tua, banyak yang ingin anaknya segera menikah agar tidak membebani lagi secara ekonomi dan juga mencoreng nama keluarga karena zina. Kenyataan berbicara sebaliknya, perkawinan dini dan usia muda akan memunculkan risiko antara lain kesehatan seksual dan reproduksi, beban ekonomi yang kian berat, kekerasan dalam rumah tangga, perceraian hingga bunuh diri.

Menghargai Pilihan

Tekanan pernikahan itu ternyata juga dialami oleh individu berusia 24-28 tahun nih, Sobat Remaja. Usia yang dianggap lebih matang untuk menjalani kehidupan pernikahan. Makanya tekanan datang bertubi-tubi tak kenal waktu dari keluarga dan orang di sekitar. Saat Lebaran bukannya saling silaturahmi dan bermaafan, ada aja rentetan pertanyaan yang menjengkelkan, “mana nih calonnya?” “Ditunggu ya undangannya!” Pertanyaannya pun nyambung terus kalau sudah menikah, “anaknya udah berapa nih?” “enggak mau nambah anak lagi?” Masih ditambah lagi pendapat-pendapat netizen kala ngomentarin hidup kita yang ngalahin pedasnya cabai. Yuhuu…

Dania Moehas (28) orang muda yang saat ini sedang bekerja di Kuala Lumpur, Malaysia menceritakan pengalamannya dalam Episode 5 Podcast Cawan Wicara. Ketika usianya 24 tahun setelah lulus kuliah S1 Dania seringkali ditanyakan oleh orang di sekitarnya kapan menikah. Waktu itu dia bilang ingin melanjutkan kuliah lagi dahulu. Tanggapan orang-orang malah bilang kalau “ngapain sekolah lagi, nanti susah dapat jodoh, nanti laki-laki pada minder ngedeketinnya”. Ketika lagi lanjut S2 pun banyak pertanyaan yang hinggap. Nah pertanyaan itu pun masih terjadi sampai sekarang. 

“Waktu liburan ke Lombok, setiap kali aku jalan sama temanku, orang pasti nanya udah nikah belum. Setiap aku jawab belum, ada pertanyaan lanjutan eh kenapa belum nikah. Sini dikenalin sama tetangga saya. Kayaknya orang pengen banget nyariin jodoh,” ungkapnya.

Dalam masyarakat pernikahan itu adalah sebuah fase hidup yang seolah olah harus sekali dilalui oleh individu. Menurut Dania, pernikahan itu adalah sebuah pilihan. Dania sangat menghormati keputusan seseorang untuk menikah. Asalkan pernikahan itu didasarkan pada penuh, sadar, hadir utuh pada keputusan ingin menikah. Individu tersebut tahu hidupnya akan baik-baik saja setelah menikah. “Bukan untuk keputusan yang penuh ancaman. Pada akhirnya menyebabkan individu tidak punya pilihan,” tuturnya.

Orang muda yang biasa disapa Ibil ini juga mendengar ada anggapan di masyarakat bahwa tidak menikah itu karena tidak laku. “Kalau saya sih tidak memikirkan itu. Kalau enggak laku sih tidak masalah,” kata Ibil.

Ibil juga merasakan adanya tekanan dari masyarakat untuk segera menikah. “Kan sekarang saya ada pasangan, ada tuh tuntutan dari masyarakat kayak kapan nih nikahnya. Tetangga dan saudara sering nanya kayak gitu. Apalagi teman (yang seusia) juga sudah banyak yang menikah. Terkadang mikir apakah saya telat nih nikahnya. Tapi itu terlintas saja, tidak jadi tekanan yang berat buat saya,” tuturnya.

Dalam hal ini Ibil mengakui bahwa pernikahan masuk dalam perencanaan kehidupannya. Namun itu tidak sama sekali membebaninya. Ia dan pasangannya memiliki target-target lain yang harus diselesaikannya terkait pendidikan, usaha, dan juga keluarga inti. “Dari keluarga saran-saran ke arah segera menikah itu ada, tapi itu bukan tekanan.”

Dania dan Ibil memiliki caranya masing-masing dalam mengkomunikasikan pilihannya ke orang-orang sekitar dan masyarakat. Untuk menyikapi rewelnya masyarakat yang nanya-nanya soal nikah, Dania punya ide unik. “Kepikiran aku beli cincin aku pake di jari manis sebelah kiri, biar orang tahunya aku sudah menikah. Itu hal yang sudah aku jalanin setahun ini nyaman banget. Jadi kalau sekarang ditanyain orang eh kok jalan sendirian sih udah nikah? Udah! Sambil ngeliatin cincin. Dan orang-orang berhenti di situ pertanyaannya,” ujar Dania.

Sementara itu, Ibil memilih untuk tidak mengambil pusing apa yang orang-orang tanyakan soal menikah kepada dirinya. “Saya sih lebih santai aja ya kalo sekarang. Enggak pakai emosi ngeladeninnya. Ya bilang aja kalau saya dan pasangan punya rencana-rencana yang sudah disepakati bersama,” kata Ibil.

 

Penulis : Ryan A. Syakur

 

Glosarium 

Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi : Terjemahan dari istilah dalam Bahasa Inggris, Sexual and Reproductive Health and Rights (SRHR). Istilah ini pertama kali muncul dari peran penting Konferensi Internasional untuk Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development) tahun 1994 di Kairo, Mesir yang menghasilkan Program Aksi dan Konferensi Dunia tentang Perempuan ke-4 tahun 1995 di Beijing, China. HKSR jadi hal yang penting untuk memastikan martabat dan hak asasi manusia menjadi inti pembangunan, termasuk juga hak yang terkait dengan keputusan individu untuk berkeluarga.

Kesehatan Reproduksi Remaja : Suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Pengertian sehat di sini tidak semata-mata berarti bebas penyakit namun juga sehat secara menyeluruh termasuk mental serta sosial kultural.

 

 

Referensi

Media Indonesia. 2020. Pernikahan Remaja Rawan Perceraian. Diakses melalui:

https://mediaindonesia.com/read/detail/181744-pernikahan-remaja-rawan-perceraian

 

Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 Tentang KEsehatan Reproduksi. Diakses melalui:

http://kesga.kemkes.go.id/images/pedoman/PP%20No.%2061%20Th%202014%20ttg%20Kesehatan%20Reproduksi.pdf

 

Tempo.co. 2020. Nikah Muda Ramai di Medsos, Psikolog Ungkap 5 Alasannya. Diakses melalui:

https://cantik.tempo.co/read/1343450/nikah-muda-ramai-di-medsos-psikolog-ungkap-5-alasannya

 

Tirto.id, 2019. Gerakan Nikah Muda: Sia-Sia Sekaligus Berbahaya. Diakses melalui:

https://tirto.id/gerakan-nikah-muda-sia-sia-sekaligus-berbahaya-dhyS

 

Tirto.id. 2020. Pernikahan Dini, Kawin Tua, & Kapan Usia Menikah Ideal. Diakses melalui:

https://tirto.id/pernikahan-dini-kawin-tua-kapan-usia-menikah-ideal-fvks

 

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Diakses melalui:

https://www.expat.or.id/info/UU-Nomor-16-Tahun-2019.pdf

 

Voi.id, 2019. Banyak Perceraian karena Kurang Siap Menikah. Diakses melalui:

https://voi.id/tulisan-seri/901/banyak-perceraian-karena-kurang-siap-menikah

 

 

Bagikan Artikel Ini
Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lain